GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PERJUANGAN (GBPP – SPPQT)

April 21, 2008 at 5:02 pm 1 komentar

Salah satu keputusan Rapat Umum Anggota Serikat (RUAS) III adalah tentang garis-garis besar program perjuangan serikat paguyuban petani qaryah thayyibah. Garis-garis besar ini akan menjadi haluan seluruh kerja-kerja lembaga dalam rangka membangun peradaban bangsa lewat mewujudkan masyarakat tani yang tangguh. melalui perdebatan sengit dan mendasar garis-garis besar program perjuangan ini akhirnya disepakati dan diputuskan untuk menjadilandasan perjuangan.

Akar Persoalan ’Keserakahan Manusia’

Akar persoalan dari ketimpangan/kesenjangan struktur sosial adalah keserakahan, kerakusan, ketamakan atau yang sejenis, dengan demikian hal itu menjadi sesuatu yang nista. Oleh ummat manusia kemudian diterjemahkan dalam praktek-praktek kesehariannya ; menjajah, memecah belah, menjarah, menghisap, menindas, menguasai adalah inti kerjanya. Di semua sektor kehidupan diterapkan prinsip-prinsip tersebut.
Hidup dan penguasaan kehidupan adalah sesuatu yang paling penting. Dengan (nafsu) keserakahan, hidup dan kehidupan bisa direkayasa sedemikian rupa sehingga bisa dikuasai dan dikendalikan. Ambilah contoh, benih atau bibit sudah digantikan dengan model yang sangat menakutkan yakni trans genik. Hak Kekayaan Intelektual sudah diperjual belikan, dibajak atau dipangkas. Hal-hal yang abstrak bisa dimateriilkan dan dikapitalisir. Udara yang pada aslinya itu adalah sesuatu yang bebas dinikmati oleh makhluq hidup dijaman sekarang ini sudah dikomoditaskan dan diperdagangkan. Contohnya, perdagangan karbon, gelombang elektromagnetik.  
Sektor Ekonomi, prinsipnya jelas, pelipatan modal menginspirasikan praktek-praktek kerjanya. Previlese (posisi yang istimewa) dioptimalkan baik dalam rangka mempertahankan maupun memperluas sehingga dengan dalih ’mampu dan bebas’ terus melakukan upaya-upaya untuk mengakumulasikan kapitalnya. Kelas yang mempunyai keistimewaan itu (semacam; tuan tanah) terus dilanggengkan karena sangat ampuh untuk mempertahankan kepentingannya.
Pada konteks Politik sangat jelas. Pada prinsipnya politik adalah menguasai (baca : kekuasaan). Jadi bagaimana bisa menguasai bahkan sampai puncak kekuasaan karena dengan demikian untuk memperlancar usaha-usaha penjajahan dan penguasaan maka harus dicapai dengan jalan mengambil alat-alat kekuasaan untuk dimanfaatkan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Aspek Hukum; akan diciptakan suasana yang kuat adalah yang menang bukan yang benar yang menang. Kalau perlu merekayasa agar hukum berfihak pada mereka bukan berfihak pada kebenaran dan keadilan, berapapun ongkosnya. Hal merekayasa dan menskenario adalah pekerjaan mereka agar hukum yang berlaku mendukung kiprah mereka. Hal itu persis sama dengan hukum rimba, siapa yang kuat maka dialah yang akan menang.
Budaya; kelompok serakah ini akan berupaya melanggengkan dan menciptakan budaya baru. Melanggengkan manakala kepentingannya terwujud dan terlindungi, memantapkan (status quo) manakala budaya semakin membelenggu (baca: hegemoni) rakyat/petani. Dunia akan diarahkan pada model yang diinginkan. Menggusur tradisi baik yang berlaku dalam masyarakat. Individualism / egoism akan menggusur sistem yang luhur, yang sarat dengan kehidupan bersama, kolektif, gotong royong, tidak menggasak hak lain dan bahkan bentuk-bentuk yang paling sakral sekalipun, semacam keyakinan adanya hukum karma. Budaya konsumerism akan terus dipacu untuk menggantikan produktivitas dan kreativitas. Pendek kata, budaya baru yang akan diciptakan itu akan bisa merubah pola pikir dengan cara selembut-lembutnya, tak terasa.      
Pemaknaan atas dokumen (risalah) agama diterjemahkan dan dipahamkan seiring dengan niatnya untuk menguasai dan mengeksploitasi dunia, bahkan memanipulasi ayat-ayat Tuhan pun dilakukan.
 
Kapitalisme

Orang-orang serakah ini (sang kapitalis) sadar betul untuk mencapai tujuannya tidaklah gampang, dibutuhkan perangkat-perangkat yang kondusif, baik perangkat keras maupun perangkat lunak, membutuhkan bangunan sistem yang efektif dan jitu . Kedudukan sosial yang tinggi (para orang kaya dan tuan tanah) dipergunakan sebagai sarana atau alat untuk terus melakukan pemerasan terhadap kaum yang lemah dan miskin. Sebaliknya para petani miskin atau buruh tani terus akan berhadapan dengan kekuatan feodal yang nyaris tidak memberikan kesempatan untuk bangkit dan menata diri.
Hampir semua institusi dimanfaatkan; Negara, militer, pasar, pers, birokrasi, institusi pendidikan, ekonomi, adat dan agama. Ditambah dengan manusianya yang masih terbelakang dan bodoh. Hal itu menjadi incaran dan sasaran yang menarik untuk berpraktek dan beroperasi.
Dalam banyak hal negara berfungsi sebagai komprador negara-negara kapitalis. Alat-alat negara difungsikan untuk kerja-kerja kapitalis bahkan sampai birokrasinya; aparat keamanan ditugaskan untuk menekan (represi) kemauan rakyat yang melawan penguasa; produk (perundangan) diarahkan untuk mendukung kepentingan kapitalis; institusi-institusi dari yang berlevel international sampai lokal (IMF, Worl Bank, ADB, dan Bank-bank lokal lainnya); jaring-jaring dagang semacam WTO, MEE, AFTA, NAFTA dll; Bill Gate selaku individu kunci dalam jaring bisnis Microsoft semakin kuat mencengkeram dunia; provokasi media cetak dan elektronik semakin efektif, para tokoh masyarakat, agamawan dan cendekiawan sudah bisa dibeli dll, itu semua mereka wujudkan untuk sarana percepatan perjalanan mereka dalam menjajah dan memeras kelas tertindas, petani gurem dan kaum miskin lainnya.

Persoalan di Indonesia
 
Indonesia yang masih menjadi negara terbelakang (berkembang) ini dengan demikian juga mempunyai masalah dasar yakni arus global yang berimplikasi pada aspek budaya lokal; penjajahan bentuk baru (neo-kolonialisme/neoliberalisme) dimana negeri kita sendiri masih menjadi jajahannya negara kapitalis seperti AS, Inggris, Jepang dll; dan birokrat kita yang juga menjadi perpanjangan (antek-antek) kapitalis yang tidak pro petani miskin; serta sisa-sisa feodalisme yang belum terkikis habis di pedesaan dan perkotaan masih menjadi masalah utama kita.
Era Reformasi tidak sekaligus bisa menjawab permasalahan secara nasional, disamping individu-individu birokrat (sipil maupun militer) yang kagetan, kurang jujur (amanah), korup dan kurang cerdas. Para birokrat kurang mempunyai kemauan untuk melayani kehendak di luar kehendak mereka; juga masih kuatnya pengaruh lama yang masih efektif, kita tahu pemerintahan lama sangat pro kapitalis dan sama sekali tidak pro rakyat.
Contoh yang paling nyata adalah tidak adanya kemauan politik dari pemerintahan sekarang ini untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dari KKN seperti yang diamanatkan dalam TAP MPR RI, biang keladinya tak tertangani malah disibukkan dengan dengan urusan korupsi-korupsi yang nominalnya relative kecil. Contohnya, Kasus BLBI yang masih terkatung-katung sampai sekarang.
Amanat UU PA tahun 60 jelas belum dilaksanakan malah disusul dengan UUPMA, UU Privatisasi Air, UU Kehutanan, UU Perkebunan yang semangatnya bertolak belakang. UUPA sangat pro rakyat sementara UU susulan bercorak kapitalis.
Kasus impor beberapa barang pokok produksi pertanian adalah kebohongan pemerintah yang paling nyata, karena dengan begitu berarti pemerintah tidak punya arahan (kebijakannya) yang pro Petani miskin, juga berarti bahwa kedodoran dalam mengantisipasi perkembangan global yang sangat cepat. Kebohongan ini persis sama dengan ketika orde baru menyatakan swasembada beras, dua atau tiga tahun kemudian kita mengimpor beras.
Mental pejabat dan birokrat tidak berubah sesudah reformasi, betapa para pejabat dan birokrat sangat tertutup dan sangat tidak transparan. Pengalaman kawan-kawan SPPQT selama melakukan advokasi anggaran menjumpai situasi begitu tertutupnya mereka terhadap organisasi tani di luar kroninya. HKTI dan KTNA adalah kroni mereka. Sementara ormas tani semacam SPPQT, FSPI, Dewan Tani, STN, AGRA, dan serikat-serikat tani lain masih dianggap musuh sehingga tidak direspon.
 
Tantangan ke depan   

Kita akan semakin terjerumus pada tatanan masyarakat yang kapitalistik, menjajah, menguasai, menindas kalau tidak cepat-cepat membenahi diri. Karena yang kita cita-citakan adalah terbangunnya tatanan masyarakat yang sangat menghargai pribadi-pribadi (humanis), tidak menjajah, tidak menjarah, dan tidak menindas seperti yang ada dalam nilai-nilai budaya local yang luhur ; kebersamaan, gotong royong, tolong menolong, toleran dll, seperti yang dicita-citakan para pendahulu kita (founding fathers) yang tersurat dalam UUD 1945.

Hal yang kemudian harus kita lakukan berikutnya adalah  memperkuat organisasi massa petani supaya kedepan bisa betul-betul menjadi organisasi yang efektif dan strategis untuk memperjuangkan kepentingan anggotanya di negara kita tercinta ini. Hal tersebut harus segera dilakukan karena tantangan yang akan dihadapi oleh kaum tani tidak semakin ringan.

Kita tidak sedang seperti HKTI atau KTNA atau organisasi lain yang menjadi under bow-nya penguasa/pengusaha, kita adalah ormas independent yang lahir justru akibat kesemrawutan situasi social politik dan sama sekali tidak memberi ruang untuk bergerak dan berkembang baik sebagai warga bangsa maupun sebagai kelas kaum tani yang tertindas. Kita muncul dalam situasi ketidak tegasan pemerintahan dalam mengemban amanat penderitaan rakyat (Petani). Belajar dari keberhasilannya kapitalisme, kita harus mempunyai argument kontra dan aksi yang visi dan misinya jelas. Tidak bisa tidak, kita harus bergerak, bersatu padu menyusun kekuatan melawan penindasan untuk kemuliaan dan kejayaan Petani.

Qaryah Thayyibah (sebagai organisasi massa tani)  

Ada dua unsur yakni Desa dan Petani sedang unsur pengikat dan penguat adalah organisasi, yakni untuk menata, memformulasikan, merancang dan menentukan arah gerak dari perkembangan sosial politik petani itu sendiri. Kematangannya (organisasi) sesuai dengan tingkat berpikir dari elemen organisasi dan tempaan atau tantangan yang dihadapi.
Desa adalah sebuah entitas budaya, beragam (kompleks) dan berkaitan, didalamnya terdapat pemahaman teologi (pandangan tentang makrokosmos dan mikrokosmos), satuan wilayah dengan segenap Sumber Daya Alamnya, juga terdapat pola hubungan (relasi) sesama antar manusia dan manusia dengan alam; tata aturan atau tradisi luhur; perilaku ekonomi; pola kepemimpinan bahkan tempat berkembangnya keyakinan masyarakat, terlepas dari apa yang menjadi keyakinannya.  
Dari sudut pandang falsafah, Desa adalah tempat hidup dan penghidupan bagi masyarakat yang berada di dalamnya. Tempat hidup karena secara fisik menjadi tempat tinggal dan tempat mencari penghidupan bagi petani. Berekspresi; sebagai wahana berekspresi komunal sekaligus ekspresi yang sangat personal; Berkarya; menyusun kekuatan dan membangun keberdayaan dan membangun peradaban; Bekerja; mengolah tanah, menanam, panen dlsb (praktek IOF) untuk bekal hidup sekarang ini (dunia). Landasan filosofisnya adalah keseimbangan, menjaga tradisi baik (kearifan lokal), keterkaitan (utuh menyeluruh) dan interdependensi sebagai satu bentuk perlawanan terhadap sistem yang tidak adil,  sistem yang kapitalistik serta sistem yang menindas. Dengan demikian Desa adalah potret kedaulatan yang utuh menyeluruh.
Dari segi kedaulatan dan ketahanan pangan, institusi lumbung secara empirik terbukti pernah menjawab tantangan yang kompleks itu. Keswadayaan, keberdayaan, kemandirian dan kedaulatan terakumulasikan dalam sebuah institusi yang mereka sepakati.
Akses dan penguasaan sumber-sumber agraria, pengelolaan sumber-sumber daya, penataan sistem produksi sampai pada pasca produksi (permodalan, tehnologi dan pasar) harus dipersiapkan secara serius untuk menuju penguasaan dari, oleh dan untuk petani berprinsip pada nilai – nilai keadilan.
”Desa adalah kekuatan dari desa petani berdaya”, sesanti ini menunjukkan dengan jelas betapa ”desa” begitu penting bagi petani. Desa dan petani adalah kesatuan unsur yang membentuk kekuatan. Melalui cakupan wilayah (desa) petani menyusun persatuan dan membangun kekuatan untuk menjawab tantangan jaman. Oganisasi massa tani adalah alat perjuangan petani untuk menjawab tantangan dan kebutuhan petani.  

 
POKOK PROGRAM PERJUANGAN

Terbangunnya peradaban baru bangsa Indonesia berbasis kepada pertanian  sehingga terbentuk masyarakat yang adil dan makmur bagi petani dan seluruh rakyat Indonesia.

Mewujudkan kaum tani yang tangguh, berdaulat dan berdaya yang mampu mengelola dan menguasai sumber-sumber agraria dan segala sumber daya yang tersedia beserta seluruh potensinya sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan dan kelestarian lingkungan serta kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
Menegakkan pemerintahan patriotis demokratis yang anti imperialis, adil, transparan/akuntabel.
Memajukan kebudayaan yang meninggikan harkat dan martabat manusia tanpa memandang perbedaan suku, bangsa, ras dan agama.
Strategi : memperkuat desa dengan segala aspeknya (hukum, ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan dan lingkungan)
Tiga pilar kerja-kerja pemberdayaan :
1 Pendidikan kritis dan pendidikan penyadaran
2 Pengorganisasian
3 Advokasi

Arahan atau muatan :
Land Use : untuk menjawab persoalan jangka dekat. (Optimalisasi lahan).
Land reform : untuk perjuangan jangka panjang. (Maksimalisasi lahan).
Integrated : menyangkut semua aspek kehidupan Petani, integral dan lestari serta penataan system produksi.
 
Garis Besar Program Perjuangan
(1) Melakukan dan Mengembangkan Pendidikan Kritis untuk Petani (laki-laki, perempuan, tua, muda dan anak-anak).
(2) Meningkatkan pemahaman tentang hak-hak politik petani (laki-laki dan perempuan) dalam rangka memperkuat posisi petani atas penguasaan, pemanfaatan sumber daya.
(3) Mengembangkan Pendidikan Kader bagi Generasi Muda tani.
(4) Membangun dan memperkuat organisasi agar mampu berkembang menjadi organisasi tani yang efektif untuk memperjuangan kepentingan/hak-hak petani.
(5) Melakukan Pengorganisasian Petani dan nelayan secara terus menerus tanpa henti, khusus untuk ”buruh tani, petani penggarap, petani miskin, petani nelayan” yang merupakan subyek land reform harus diberikan penekanan khusus dengan perspektif yang jelas dan tegas tentang land reform.
(6) Melakukan Pengorganisasian Perempuan dan Buruh Migran.
(7) Memperkuat dan Membangun Jaringan antar Organisasi Petani. Mengembangkan Media dan Jaringan Komunikasi dan informasi antar Petani.
(8) Menggalakkan Gerakan Lingkungan; mengembangkan sistem Pertanian yang Berkelanjutan; mengembangkan sistem Konservasi Kawasan.
(9) Mengembangkan Ekonomi Komunitas Petani. (Sistem Lumbung)? Meningkatkan keswadayaan, kemandirian (interdependensi) sumber daya dan ketahanan ekonomi produksi.
(10) Membangun Pola hidup sehat bagi Keluarga Petani.
(11) Melakukan Advokasi Kebijakan yang berpihak pada Petani miskin; layanan kesehatan secara gratis  namun efektif, kena sasaran dan tepat sasaran;  menuntut pembebasan petani/rakyat dari buta huruf, menuntut agar semua warga Negara dapat memperoleh pendidikan murah dan berkualitas, tidak diskriminatif hingga perguruan tinggi.
(12) Mengembangkan Pembaharuan Tata Ruang Desa yang berpihak pada kepentingan petani dan lingkungan.

Iklan

Entry filed under: Uncategorized.

RUAS III SPPQT telah dilaksanakan Dewan Pimpinan Petani SPPQT

1 Komentar Add your own

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Sekretariat:

Jln Ja'far Shodiq 36 Kalibening Tingkir Kota Salatiga. Phone (0298) 311438.
April 2008
S S R K J S M
« Feb   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: