Buruh, Pendidikan dan Kebangkitan Bangsa

Mei 3, 2008 at 5:20 am Tinggalkan komentar

Keterpurukan kondisi buruh merupakan akibat dari kesemrawutan sistem pendidikan yang hanya berorientasi pada pasar, kepentingan pemilik modal dan jauh dari kberpihakan kepada rakyat. Adalah menarik untuk membahas hal ini dikala kita memperingati seabad kebangitan nasional. Indonesia yang sudah seabad mencanangkan kebangkitannya, sampai saat ini nyatanya belum bisa lepas dari kooptasi dan penjajahan.
Kondisi perburuhan di Indoesia masih jauh dari layak. Gaji dan upah yang rendah, jaminan keamanan, sosial apalagi kesejahteraan buruh masih angan-angan. Keberpihkan pemerintah selaku pemegang amanah kedaulatan rakyat lebih berpihak pada kepentingan kapitalis dan pemilik modal. Banyak serikat pekerja yang hanya menjadi alat kontrol atas gerakan buruh sehingga serikat buruh menjadi mandul, tidak mampu memperjuangkan aspirasi buruh. Tingkat pendidikan dan ketrampilan yang pas-pasan, ditambah dengan ketersediaan lapangan pekerjaan yang sedikit menjadikan buruh tidak memiliki daya tawar sehingga rentan terhadap eksploitasi dan penindasan. Belakangan pemilik modal lebih kejam lagi dengan memakai sistem kontrak (outsourcing) dimana buruh dipekerjakan tanpa jaminan sama sekali dan tidak ada posisi tawarnya.
Pemerintah dengan gampangnya didikte dan diatur oleh pemilik modal. Segenap peraturan dan undang-undang (perburuhan) lebih berpihak pada kepentingan pemodal. Berbagai macam upaya dilakukan untuk menarik pihak asing agar menanamkan modalnya (menjajah) di Indonesia dengan iming-iming buruh murah, bahan baku murah, dan aturan yang mudah. Beribu potensi yang seharusnya bisa dikelola anak bangsa malah dijual kepada pihak asing demi untuk menutup duit APBN yang selalu defisit. Kecerdasan pemerintah hilang dan tergantikan dengan kemilau kepentingan sesaat dan masa depan bangsapun tidak diabaikan lagi. Pemerintah memandang angkatan kerja dan lulusan sekolah sebagai beban dan persoalan. Pemerintah lupa bahwa angkatan kerja dan pencari kerja adalah modal yang tinggi dan terbaharui. Di benak pemerintah modal itu adalah uang dan karenanya pemerintah menjadi buta akan potensi tenaga kerja yang melimpah sebagai modal.
Buruh murah, tanpa ketrampilan memadai, miskin kreatifitas dan minimnya semangat kemandirian salah satunya disebabkan karena sistem pendidikan yang membelenggu, tidak mengembangkan kreatifitas, dan membangun sistem ketergantungan yang akut. Ukuran kesuksesan pendidikan dengan mendapatkan pekerjaan (menjadi pekerja, buruh, karyawan) telah tertanam begitu dalamnya sehingga sedikit sekali lulusan persekolahan dan sarjana yang mau mengembangkan kewirausahaan. Faktanya bahwa kebanyakan lulusan sekolah dan sarjana begitu lulus langsung membuat lamaran sebanyak-banyaknya, kemudian menunggu panggilan dan kalau beruntung mereka bisa memilih mana pekerjaan yang disukai. jarang sekali lulusan yang begitu lulus langsung mengembangkan usaha ekonomi. Rata-rata tidak berani ambil resiko. Pendidikan rupanya telah menanamkan sifat pengecut dan penakut, bermental rendah diri, dan tidak berani menghadapi tantangan. Kecenderungannya adalah mencari selamat dan memikirkan kepentingan pribadi.
Pemerintah menempatkan pendidikan sebagai sarana untuk mencetak manusia-manusia trampil, bisa terserap di bursa kerja, menyediakan tenaga/buruh murah, dan mendatangkan keuntungan bagi pendapatan negara. Pemerintah tidak menempatkan pendidikan sebagai modal untuk membangun bangsa yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Kepentingan pengambil kebijakan adalah kepentingan jangka pendek dan sesaat, penuh intrik politik dan sifatnya pragmatis. Ukuran keberhasilan pendidikan hanya dilihat dari nilai-nilai kelulusan, angka kelulusan, dan jabatan.
Kondisi di atas sungguh terasa memprihatinkan manakala teringat bahwa kita telah seabad memperingati kebangkitan nasional. RUpanya bangsa ini masih terpuruk dalam penjajahan. Rupanya bangsa ini masih terbelenggu dengan alam berpikir orang lain dan belum mampu membangun peradabannya sendiri. Masih silau dengan kemajuan bangsa lain dan tidak bersegera bangkit untuk meraih kemerdekaannya. Rupanya bangsa ini belum bisa menjadikan perjuangan dan pengorbanan jiwa raga para pendiri bangsa sebagai semangat untuk bangkit dan membangun kedaulatan Indonesia.
Bangsa Indonesia (termasuk pemerintahnya) suka meratapi nasib dan keterpurukan yang menimpanya. Kemudian menulisnya di media-media, menjadi bahan diskusi-diskusi, menjadi bahan kampanye-kampanye, dan akhirnya dijadikan komoditas untuk diajukan ke lembaga dana-lembaga dana.
Kapankah kiranya anak-anak bangsa, anak Ibu Pertiwi ini bangkit dan berpikiran merdeka, percaya pada kekuatan dan potensi bangsa untuk bangun dan membangun peradaban Indonesia? Kapankah kiranya anak-anak Ibu Pertiwi ini belajar dan memahami segenap ilmu dan pengetahuan tentang Indonesia sehingga jadi lebih memahami dan mencintai Indonesia? Kapankah anak bangsa ini bisa lepas dari belenggu pengetahuan dan alam berpikir barat yang rakus, eksploitatif, kapitalistik dan membangun kesejahteraan di atas penderitaan bangsa lain? Kapankah kiranya pemerintah bukan sebagai saudagar rakus yang menjual aset-aset bangsa, menggadaikan kekayaan bangsa dan menjadikan kedudukan dan jabatan sebagai kesempatan untuk memperkaya diri sendiri? Kapankah wakil rakyat bukan segerombolan mafia yang beraksi penuh catatan korupsi, yang malas sidang dan berpikir nasib rakyat padahal segenap fasilitas dipenuhi?
Seabad sudah kebangkitan bangsa dicanangkan. seabad sudah tekat dibulatkan untuk membangun bangsa Indonesia. Selamat memperingati seabad kebangkitan nasional.

Iklan

Entry filed under: Uncategorized.

Gopek bisa ngenet setengah jam, mau? Sikap SPPQT terhadap pengelolaan Eks Tanah Salib Putih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Sekretariat:

Jln Ja'far Shodiq 36 Kalibening Tingkir Kota Salatiga. Phone (0298) 311438.
Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Agu »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d blogger menyukai ini: