Desa Indah SPPQT

Januari 13, 2009 at 7:53 am Tinggalkan komentar

Memasuki tahun 2009 SPPQT membangun ulang rancangan kerjanya. Rancangan kerja baru ini mengacu pada hasil kerja tahun sebelumnya dan juga memperhatikan faktor eksernal organisasi. Salah satu hal yang menjadi perhatian SPPQT adalah RUU desa. Desa menjadi perhatian SPPQT karena paguyuban saat ini berbasis desa. Bagaimana SPPQT bersama anggota membangun keberdayaan desa melalui program-programnya perlu memperhatikan kebijakan pemerintah atas desa. Pembahasan RUU desa akhirnya menjadi agenda utama diskusi. Diskusi ini mengacu pada RUU desa dan UU Desapraja tahun 1965
Diskusi para pegiat SPPQT yang diadakan pada hari kamis (9/1/2009) menggagas tentang perspektif desa ala Qaryah Thayyibah dan membahas wacana tentang  Draft RUU Desa tertanggal 22 Januari 2008. Diskusi ini menggali tentang kesejarahan desa di Indonesia, situasi terkini berkaitan dengan kondisi perdesaan, beberapa undang-undang yang berkaitan dengan desa, serta pembahasan draft RUU Desa 2008.
Secara kesejarahan, desa di Indonesia sudah ada sejak jaman kerajaan hingga saat ini. Namun konsepsi tentang desa baru terdokumentasi secara legal pada masa kolonial. Pada masa kolonial, desa lebih dipandang sebagai sasaran penghisapan kaum penjajah, baik secara sumberdaya manusianya sampai dengan potensi yang ada di desa, seperti pertanian, tambang, air dsb. Pasca kolonial yakni zaman kemerdekaan Pemerintah RI membuat peraturan tentang desa yakni UU No. 12 tahun 1948. Tujuan dari UU No. 12 Tahun 1948 adalah desa aktif sendiri mengelola kekayaan desa dan mandiri dari penjajah Belanda.
Pada tahun 1960-an muncul UU No. 10 tahun 1965 Tentang Desapraja sebagai pelengkap dari UU sebelumnya. Semangat dari UU No. 10 tahun 1965 adalah pengakuan otonomi desa, dengan hasilnya adalah tersedianya lumbung desa. Namun belum lama implementasi dari UU No.10 tahun 1965 terjadi peristiwa G30S dan kepemimpinan Soekarno juga berganti dengan Soeharto.
Pasca Gestok implementasi UU Desapraja juga teranulir dan di tahun 1970an keluar UU No 5 tahun 1979. Imbas dari UU ini yakni seluruh desa di Indonesia diseragamkan. Padahal desa itu beragam. Secara politik kekuatan desa hilang. Ini berlaku hingga jaman reformasi.
Kemudian baru muncul UU No. 22 tahun 1999. Dari sinilah sebetulnya muncul kembali semangat desentralisasi. Ada beberapa kewenangan bagus di UU ini. Namun kekhwatiran pemerintah pusat tentang menguatnya pemerintah desa menyeruak maka pada 2004 muncul UU No. 32 tahun 2004, UU ini mengakibatkan kedaulatan desa terampas kembali. Dan saat ini beredar kabar bahwa Draft RUU Desa tahun 2008. Secara drafting UU ini masih dalam tahap penggodokan atau Prolegnas.
Secara konten, UU ini mempunyai semangat mundur, artinya menyempitkan posisi tawar desa sebab semangat perdesaan disempit-maknakan menjadi model kelurahan. Saat ini saja semangat desa yang mempunyai tata pemerintahan berdaulat atas desanya sudah tergoyahkan dengan Sekdes di-PNS-kan. Artinya kedaulatan desa tergerogoti oleh kebijakan yang tidak berpihak pada desa yang berisikan petani dan segala kerifan lokal-nya.
Dalam diskusi ini, praktek pemberdayaan perdesaan di SPPQT diurai secara mendalam berkaitan dengan sebagian besar basis SPPQT adalah desa. Sebagai contoh adalah pengorganisiran yang dilakukan bukan hanya pada sektor petani, tapi juga perempuan, buruh migran dan pemuda. Jadi selain pengorganisasian petani, program terpentingnya adalah terwujudnya desa yang berdaulat.
Dalam visi-misi SPPQT dijelaskan bahwa perspektif penguatan desa haruslah mutlak menjadi perjuangan bersama semua komponen yang ada di desa. Artinya, seluruh sumberdaya, alat produksi, dan tata kelola kebijakan-nya mutlak diakses dan dikontrol oleh petani desa, sebagai perwujudan kedaulatan desa. Lebih menjurus lagi yaitu, desa adalah kekuatan, dari desa petani berdaya.

Iklan

Entry filed under: Uncategorized.

SPPQT evaluasi di 1600 dpl Pegiat Qaryah Thayyibah di Facebook

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Sekretariat:

Jln Ja'far Shodiq 36 Kalibening Tingkir Kota Salatiga. Phone (0298) 311438.
Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d blogger menyukai ini: