Seminar Ketahanan pangan SPPQT-KRKP

Juni 1, 2009 at 6:13 am Tinggalkan komentar

Seminar dengan tema Penguatan Kelambagaan Organisasi Tani Dalam Pengelolaan Pangan Lokal” telah diselenggarakan oleh Jakertani Qaryah Thayyibah Kabupaten Semarang bersama KRKP pada Sabtu, 30 Mei  2009. Acara seminat yang dihadiri oleh anggota SPPQT ini juga dihadiri oleh jajaran dinas pertanian dan ketahanan pangan. Dari unsur legislatif juga hadir dan tidak ketinggalan juga Bupati Kab. Semarang hadir dan membuka acara ini. Bertindak sebagai pembicara dalam seminar ini adalah :Khadziq Faisol (SPPQT), The Hook Giong (Komisi B DPRD Kab. Semarang), Witoro (KRKP), Samsul Hidayat (Kantor Ketahanan Pangan Kab. Semarang), Prayogo (Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Semarang).

Dalam sambutan pembukaannya Bupati mengatakan bahwa Kabupaten Semarang merupakan lumbung pangan yang potensial. Selain itu ia mengatakan bahwa Pentingnya pengelolaan pangan di Kabupaten Semarang merupakan sesuatu untuk diperhatikan. Pada bagian Witoro (Koordinator KRKP Indonesia) menyampaikan dalam sambutannya bahwa Antusias yang bagus dari Pemkab Semarang sebagai mitra kerja dalam pengelolaan pangan lokal. Ia juga mengabarkan mengenai Masuknya organisasi tani dalam Pokja-pokja Pangan di Nasional dan Daerah. Selin itu Pengelolaan pangan berfungsi sebagai antisipasi permasalahan pangan di kemudian hari.

Pada bagian lain Samsul Hidayat (Kantor Ketahanan Pangan Kab. Semarang) mengatakan bahwa tanggung jawab ketersediaan pangan bukan hanya oleh Pemerintah akan tetapi juga masyarakat dhi. Petani itu sendiri. Sehingga perlu menggali potensi pangan local (padi, palawija, umbi-umbian, kacang-kacangan). Termasuk didalamnya adalah pengembangan lumbung pangan. Sedangkan Prayogo (Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Semarang) dalam paparannya menjelakan bahwa rata-rata produksi padi 170.000 ton gabah sama dengan 100.000 ton beras, kebutuhan nya masih 90.000 ton jadi bisa dikatakan swasembada. Selain itu dia juga mengatakan bahwa paradigma makanan harus beras perlu diubah karena yang terpenting adalah kandungan kalori dalam bahan pangan sehingga perlu disubstitusi dengan umbi-umbian, sayuran, buah-buahan.

Di bagian lain The Hook Giong (Komisi B DPRD Kab. Semarang) menjelaskan dalam pembicaraannya bahwa pangan tidak terlepas dari kebijakan politik sehingga peran legislative dalam pengelolaan system pangan local termasuk didalamnya alokasi anggaran APBD. Selain itu dia juga menjelaskan bahwa belum adanya sinkronisasi antara program pertanian dari Pemerintah dengan petani. Sehingga pemberian informasi dan komunikasi secara jelas dan transparan sangat penting dibangun. Untuk Bappeda mungkin masukan saya adalah perlu di kembalikan lagi pada slogan “Intan Pari” sehingga yang perlu direncanakan secara matang adalah bidang pertaniannya, bukannya operasionalnya saja.

Di dalam pembicaraannya Khadziq Faisol (SPPQT) menjelaskan bahwa Konsepsi lumbung di Negara Agraris mempunyai nilai historis yang panjang. Sekarang ini kita terlupakan pada hal tersebut dan malah terjebak dalam industrialisasi pertanian pro-pasar. Problematika revolusi hijau melalui pasar bebas maka perlu dikembangkan paradigma kedaulatan pangan. Faktanya adalah raskin masih berjalan padahal katanya surplus beras. Factor eksternal seperti perubahan iklim juga ikut berpengaruh anmun hal tersebut bukan sebagai alasan yang pas untuk disalahkan. Dijelskan juga bahwa SPPQT sendiri untuk mengatasi problematika tersebut kita program yang dinamakan “IOF = Integrated Organic Farming” di Kab. Semarang ada 23 Paguyuban petani anggota SPPQT. Maksud dari IOF adalah mempersiapkan On-Farm dan Off-Farm secara jangka panjang. Sehingga peningkatan kuantitatif juga perlu dimajukan secara kualitatif. Di akhir paparannya faisol menandaskan bahwa yang terpenting memperkuat kelembagaan organisasi petani, yakni dengan penguatan organisasi secara maju. Sehingga apresiasi perlu diberikan pada mereka yang melakukan kerja-kerja pengorganisiran.

Witoro (KRKP Pusat) pada paparannya menjelaskan bahwa Kekayaan hayati Indonesia pada dasarnya memberikan khazanah yang sangat kaya bagi system pangan local dan warisan kedaulatan pangan yang sangat berharga. Ia juga mengingatkan bahwa meskipun di Kab. Semarang surplus namun membangun solidaritas untuk kedaulatan pangan tetap perlu dibangun sebagai wujud kebersamaan dan tanggungjawab dari Pemerintahan dan masyarakat. Dibagian akhir pembicaraanya ia menjelaskan bahwa Problematika yang juga perlu dibahas adalah system subsisten artinya perlu dipikir tentang pengaturan ketersediaan pangan, mengingat pertanian sebagai produsen utama pangan maka sebelum melakukan pemasaran maka perlu dibuat system pengamanan untuk jarring lingkar terkecil di petani local.

Seminar ini kemudian di lanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab.

Iklan

Entry filed under: Uncategorized.

Pertanian dan Neoliberalisme.. Capacity Building untuk Pegiat dan DPP SPPQT Juni 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Sekretariat:

Jln Ja'far Shodiq 36 Kalibening Tingkir Kota Salatiga. Phone (0298) 311438.
Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d blogger menyukai ini: