Workshop Konservasi dan Perdes di SPPQT

Juni 18, 2009 at 5:55 am Tinggalkan komentar

Pada hari Senin, 15 Juni 2009 bertempat di Sekretariat SPPQT, Salatiga, Departemen Advokasi SPPQT mengadakan workshop tentang Konservasi lahan dan air serta Perdes (Peraturan Desa). Adapun nara sumbernya adalah pegiat dari sekretariat SPPQT yakni Kawan Abdul, Kawan Andy, Kawan Sudadi dan Kawan Purwanto. Dengan peserta yakni perwakilan petani dari Desa Pagerrejo (Wonosobo), Desa Selomoyo (Magelang), Desa Suroteleng (Boyolali), Desa Batur (Kab. Semarang). 
Tujuan dari acara workshop ini adalah menyamakan persepsi tentang konservasi air, reforma agraria, dan Peraturan Desa.
Adapun materi yang disampaiakan tentang konsep “Agroforestry”, konsep perwujudan konservasi yang dilakukan oleh organisasi petani sebagai upaya pelestarian sumber mata air, konsep tentang reforma agraria sebagai bentuk perwujudan atas akses dan kontrol petani akan sumber daya agraria, konsep tentang pengamanan dan pengelolaan asset sumber daya di desa melalui legal drafting berupa Peraturan Desa.
Dari workshop dapat diceriterakan tentang sharing pengalaman berkaitan dengan implementasi konsep konservasi, reforma agraria dan Perdes. Sebagai contoh di Desa Suroteleng (Boyolali) dalam pengelolaan konservasi sumber air melalui penerapan konsep vegetasi dan mekanisasi pola konservasi termasuk pembuatan hidran untuk membuat pompa air secara alami. Jenis tanaman yang menjadi obyek konservasi adalah jeruk, sengon, suren. Pemilihan tanaman produksi jeruk dengan alasan adalah sebagai pengusir hama kera. Dalam prosesnya konservasi lahan dan air dilakukan secara bertahap. Tahap pertama dilakukan konservasi seluas 10 Ha pada 2006, dan sampai saat ini sudah terdapat 30 Ha lahan konservasi. Disisi lain ketersediaan air di Suroteleng juga menjadi kembali bisa stabil untuk digunakan oleh warga. Sehingga dalam perjalanannya hingga sekarang dimajukan menjadi salah satu Perdes tentang Konservasi Sumber Daya Air yang digunakan untuk pengamanan dan pengelolaan asset sumber daya air di desa Suroteleng.
Sedangkan di desa Selomoyo (Magelang), saat ini juga sudah melakukan konservasi lahan dan air di dusun Gembung, Gadingan dan Mranggen. Dan lahan tersebut saat ini baru ditanami rerumputan, sengon, dadap, nangka dan suren.
Dari workshop dapat dipetik pelajaran tentang pentingnya menjaga dan mengelola sumber daya air dan lahan untuk kelangsungan hidup generasi mendatang. Selain itu di tingkatan pelaksana konservasi perlu dilakukan penguatan organisasi petani sebagai subyek yang memanfaatkan air dan lahan. Pada tataran lebih maju, perlu juga inisiasi Peraturan Desa (Perdes) sebagai upaya legitimasi terhadap akses dan kontrol sumber daya air dan lahan.(whs)

Iklan

Entry filed under: Uncategorized. Tags: , , , .

Capacity Building untuk Pegiat dan DPP SPPQT Juni 2009 PARADIGMA KEDAULATAN PANGAN ALA PETANI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Sekretariat:

Jln Ja'far Shodiq 36 Kalibening Tingkir Kota Salatiga. Phone (0298) 311438.
Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d blogger menyukai ini: