Mengapa Perempuan harus mengorganisir diri

Januari 9, 2010 at 4:56 am Tinggalkan komentar

Persoalan dasar perempuan

Sepanjang pertengahan abad 21, gerakan perempuan sampai derajad tertentu diseluruh dunia telah berhasil membangun pemahaman bagi  banyak orang tentang persoalan-persoalan perempuan. Meskipun ada beberapa masalah mendasar yang tidak terdeteksi oleh pemikiran dan perjuangan perempuan secara kolektif, seperti perubahan kondisi perempuan dibanyak tempat sebagai akibat dari dinamika perekonomian global.

Selama ini banyak orang yang berjuang dan bergerak untuk masalah perempuan tetapi sifatnya masih sektoral/ parsial seperti masalah kemiskinan, kekerasan pada perempuan, kritik pada kebijakan pemerintah dll, jarang yang bergerak untuk melibatkan atau mengkaitkan semuanya itu dengan perekonomian global yang telah kita ketahui bersama semakin menyengsarakan perempuan. Semakin terintegrasinya negara-negara berkembang dalam pigura kapitalisme internasional yang salah satu cirinya antara lain internasionalisasi modal, semakin terintegrasinya pasar dunia dan swastanisasi diberbagai tingkatan yang diharapkan akan mendorong pembangunan dinegara berkembang sejalan seiring dengan negara-negara industri maju justru semakin menempatkan perempuan pada kondisi yang sulit dan semakin tereksploitasi.

Dampak dari adanya kapitalisme global adalah negara-negara berkembang banyak menerima kerugian dan negara maju mendapatkan banyak keuntungan bagi pusat-pusat bisnis dunianya. Contoh konkrit seperti yang dialami masyarakat Indonesia saat ini, kondisi kesehatan dan pendidikan justru memburuk akibat swastanisasi pelayanan public,jumlah pengangguran yang terus meningkat dan penghisapan terhadap buruh-buruh perempuan semakin menjadi-jadi sementara harga bahan kebutuhan pokok terus beranjak naik sehingga kondisi perempuan semakin sulit dalam mencukupi kebutuhan hidupnya.

Disektor pertanian, perempuan  Indonesia sebagian besar bermukim atau tinggal dipedesaan yang kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai petani. Akan tetapi dimasyarakat pedesaan akses dan kontrol kaum perempuan terhadap kepemilikan tanah dan  sumber agraria lainnya jauh lebih rendah dibanding laki-laki. Peran perempuan juga termarginalisir seiring dengan modernisasi revolusi hijau. Penemuan mesin perontok gabah dll menjadi penanda semakin tergesernya peran perempuan oleh pekerja laki-laki, Tetapi kondisi ini bukan berarti bahwa peran perempuan dalam produksi pertanian dipedesaan disingkirkan. Sebaliknya kaum perempuan pedesaan masih merupakan jumlah terbesar dalam proses produksi,khusus sector pertanian.akan tetapi dalam partisipasi produksi ini kaum perempuan mengalami diskriminasi, khususnya dalam masalah upah, yang selalu lebih rendah dibanding laki-laki dalam waktu dan pekerjaan yang sama.

Faktor budaya dan kepercayaan memang disadari juga sebagai salah satu penghambat bagi keterlibatan perempuan yang lebih banyak disektor publik, padahal perempuan pedesaan memegang peranan penting dalam pertanian yang juga sebagai betuk kegiatan ekonomi dikeluarga pedesaan.Kondisi umum perempuan masih berpendidikan rendah dengan tingkat kesehatan reproduksi yang buruk dan tingkat perekonomian yang minim. Partisipasi perempuan pedesaan dalam usaha pertanian sebagai kegiatan ekonomi keluarga dan pedesaan tidak bisa dianggap remeh,mulai dari proses produksi pangan hingga pasca panen,serta penggelolaan konsumsi keluarga.Perempuan dari segi peranan dan curahan waktu kerja juga lebih banyak dibanding laki-laki dalam usaha bidang pertanian dan pengelolaan konsumsi pagan keluarga, tetapi saat pengambilan keputusan usaha produksi dan pengelolaan modal ekonomi keluarga ternyata lebih banyak diambil pihak laki-laki.

Dari pemaparan diatas jelaslah bahwa kaum perempuan Indonesia saat ini menghadapi masalah kemiskinan. Kemiskinan tadi lahir dari ketimpangan struktur penguasaan sumber-sumber agraria yang ada dinegeri ini yang dilanggengkan secara sistematis melalui budaya patriarkhi. Petani perempuan semakin dijauhkan dari alat produksi yang seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan perempuan sebagai produsen yang punya peran penting dalam proses produksi itu sendiri.

Realitas hidup yang dihadapi

Bicara soal perempuan,dalam keseharian seolah kita tengah berbicara tentang kehidupan,karena perempuan dalam peran yang sebenarnya adalah pemelihara kehidupan itu sendiri. Perempuan dalam kodratnya hamil,melahirkan dan menyusui dan kemudian  dikonstruksikan dalam budaya dimasyarakat untuk  bertanggung jawab dalam  mendidik dan mengasuh anak. Sehingga kemudian muncul  jargon “wanita adalah tiang negara”.

Dalam konstruksi budaya masyarakat perempuan juga berperan sebagai kepala rumah tangga / manager dalam keluarga yang bertanggung jawab terhadap pendidikan dan kesehatan, pengelolaan keuangan keluarga,dan juga soal pangan.Sedang laki-laki dalam masyarakat berperan sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab untuk mencari nafkah dan imam atau pemimpin keluarga.

Ketika perempuan harus berperan sebagai pengelola keuangan keluarga,juga tidak semudah yang dibayangkan,karena ini merupakan tanggung jawab yang besar.biasanya dalam masyarakat kita ketika laki-laki memberi nafkah untuk keluarga maka akan diserahkan semuanya,sesuai yang ia dapat dan setelah itu pasrah borongan yang artinya ,cukup atau tidak itu urusan perempuan.Disinilah mulai timbul masalah apalagi ketika harga bahan kebutuhan pokok semakin melambung karena pasti uang yang didapat tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Dan akhirnya perempuan dituntut untuk kreatif dan mencoba untuk mencari pendapatan tambahan bagi keluarganya. Ketika perempuan berperan sebagai pencari nafkah tambahan inilah kemudian timbul masalah. Disamping karena minimnya pengetahuan tentang menejemen usaha juga rendahnya perempuan terhadap akses modal dan akses pasar menjadi hambatan yang cukup serius bagi perempuan..

Perempuan sebagai penentu pangan keluarga,perempuan dituntut untuk lebih selektif dalam menyajikan menu keluarga,dalam tanda kutip selektif itu tidak harus mahal tetapi murah, bersih, bergizi dan sehat. faktor informasi tentang kesehatan dan gizi bagi keluarga sangat penting diketahui,sayangnya akses terhadap informasi ini masih sangat terbatas.Pengaruh globalisasi melalui televisi sangat efektif menjerumuskan perempuan dalam pengaruh budaya yang “mereka” inginkan sehingga mengorbankan perempuan itu sendiri

Kewajiban perempuan yang sedemikian besar tidak diimbangi dengan hak yang seharusnya mereka terima, tingginya angka ibu hamil dan melahirkan juga kurangnya gizi bagi balita menunjukkan bahwa perhatian negara terhadap perempuan memang lemah.

Bahkan ketika  dalam sebuah pertemuan dari tingkatan desa/kelompok seseorang mencoba untuk menyuarakan suara perempuan atau berpendapat tentang persoalan perempuan maka yang akan terjadi pastilah suara riuh atau tanggapan yang tidak membuat perempuan tersebut merasa tidak nyaman dan kemudian akan melahirkan ketidak percayaan karena merasa tidak didukung dan semakin menempatkan perempuan ditempat yang terbelakang.

Menilik peran diatas dapat kita lihat betapa besar dan pentingnya peran perempuan didalam sebuah keluarga, yang ini akan berpengaruh pada masa depan bangsa . Akan tetapi dalam kenyataan sehari-hari justru perempuan acap kali diabaikan.”diabaikan “ disini tidak hanya dari lingkup terkecil/keluarga saja bahkan hingga negara, sementara dalam realitas perempuan masih berpendidikan rendah, dengan tingkat kesehatan reproduksi yang rendah dan akses mereka terhadap informasi juga sangat minim. Pertanyaannya ,akan semaksimal apakah  peran mereka dilakukan sementara mereka penuh dengan  keterbatasan -keterbatasan.

Yang harus dilakukan

Melihat betapa rumitnya persoalan yang dihadapi perempuan dan kenyataan ini dihadapi oleh seluruh masyarakat indonesia pada umumnya maka hal konkrit yang harus dilakukan adalah mengorganisisr diri. Maju bergerak dan berorganisasi adalah hal mutlak yang harus dilakukan.
Dengan berkelompok perempuan dapat mengetahui persoalan dasarnya dan kemudian memperjuangkannya hak- haknya secara bersama-sama./shn/mjb

Iklan

Entry filed under: Uncategorized. Tags: , , .

Perempuan masih belum merdeka Pendamping IT di lembaga petani (perenungan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Sekretariat:

Jln Ja'far Shodiq 36 Kalibening Tingkir Kota Salatiga. Phone (0298) 311438.
Januari 2010
S S R K J S M
« Okt   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d blogger menyukai ini: