Waspadai kekerasan pada anak

Februari 9, 2010 at 8:46 am 1 komentar

Setiap hari pemberitaan baik dari media televisi maupun cetak kian sering memberitakan tentang kekerasan terhadap anak , baik kekerasan fisik, kekerasan psikis, ekonomi, sosial bahkan juga kekerasan seksual.seperti kasus anak yang dibuang, ditelantarkan hingga diperkosa dan kasus-kasus lainnya.

Kasus diatas hanyalah sedikit dari kasus yang terungkap, masih sangat banyak kasus kekerasan yang tidak terungkap dan bahkan tidak dianggap sebagai sebuah kekerasan karena dianggap sebagai hal yang lumrah seperti menjewer, memaki, memaksakan kehendak terhadap anak dan lain sebagainya. Ini terjadi karena dianggap sebagai cara mendidik anak agar anak menjadi anak yang penurut, anak yang patuh pada orang tua dan bukan anak nakal. Ketika anak berani mengemukakan pendapatnya anak dianggap berani kepada orang tua karena berani membantah atau menolak kehendak mereka.

Hal- hal tersebut diatas sudah sangat jamak terjadi dalam masyarakat karena biasanya orang tua merasa anak adalah” miliknya” (sebagai obyek/ barang) yang bisa dibentuk sesuai kehendaknya, dikuasai dan diatur sesuai keinginan mereka. Mereka lupa bahwa anak juga manusia yang sama seperti dirinya yang memiliki hati, akal, perasaan dan pemikiran sendiri. Kadang karena keegoisan orang –orang disekitarnya menjadikan anak menjadi tidak merdeka dan tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Orang tua karena keegoisannya seringkali tidak melihat dampak negatif dari yang dilakukannya yang sebenarnya sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak yang tidak maksimal.

Pelaku kekerasan terhadap anak biasanya adalah orang terdekat korban, dimulai dari orang tua, kakak, paman, nenek, lingkungannya, teman , guru dan lembaga sekolah juga Negara telah turut berperan dalam melakukan kekerasan pada anak. Dalam hal lembaga persekolahan dan negara telah menyumbang melakukan kekerasan terhadap anak biasanya dimulai dengan melakukan penyeragaman baik seragam sekolah, kurikulum hingga pola pembelajaran yang tidak partisipatif/ searah dan pemberian parameter yang sama( UAN). Hal ini yang kemudian menyebabkan kreatifitas anak menjadi hilang dan kemudian banyak dari anak yang disebut bodoh hanya karena nilai matematikanya merah sementara dia sangat mahir dalam kesenian.

Undang- undang perlindungan anak No.23 tahun 2002 sebenarnya telah lama disahkan dan telah berlaku menjadi hokum positif diIndonesia, namun sangat disayangkan sosialisasi  dan pelaksanaan undang-undang ini masih sangat terbatas sehingga kesadaran masyarakat bahwa anak juga memiliki hak masih sangat lemah.

Oleh karena itu agenda mendesak untuk mencegah kekerasan terhadap anak adalah dengan mengubah cara pandang masyarakat . Masyarakat perlu disadarkan agar dapat menempatkan anak sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat dan memiliki hak-hak yang harus dilindungi . dan peran dari orang tua / orang disekitarnya adalah sebagai pendamping untuk memfasilitasi anak untuk tumbuh kembangnya sehingga anak bisa meraih masa depannya.Karena ditangan merekalah masa depan bangsa ini berada.

Selain hal tersebut diatas memberikan ketrampilan kepada ibu sebagai pendamping utama anak (: Budaya saat ini masih menempatkan ibu sebagai pengasuh dan pendidik utama anak)sangat penting, karena ibulah yang selama 24 jam bersama dengan anak. Sementara pembacaan tentang keadaan sosiokultural masyarakat pada saat ini bapak sebagai pencari nafkah utama masih terbatas penghasilannya sementara ibu sebagai menejer keuangan keluarga harus mengatur hasil agar cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Karenaya sangat penting memberikan penguatan ekonomi kepada perempuan selain sebagai media komunikasi dan sharing bagi ibu-ibu juga sebagai sebagai sebuah cara untuk menmbah ketrampilan ibu yang kemudian bias menambah ekonomi keluarga. Sehingga kekerasa terhadap anak bias diminimalisir. (harsun)

Iklan

Entry filed under: Uncategorized.

Pendamping IT di lembaga petani (perenungan) Pendidikan tanpa kekerasan; disukai anak dan mencerdaskan

1 Komentar Add your own

  • 1. es  |  Maret 8, 2010 pukul 9:09 am

    key saya setuuju wat isinya yang emag bagus, tapi yang saya sayangkan isi dari pelaku keerasan oleh lembga sekolah, menurud saya penyeragaman itu hal yang benar dan bukan sebuah kekerasan, karena harus anda tahu bahwa pemakaian seragam itu di tujukan supaya tidak ada rasa iri, minder dan lain nya yang akan di rasa kan oleh siswa yang ekonomi bawah karena mungkin pakaian yang mreka pakai tidak sebagus yang orang lbh kaya pakae, dan sebalik nya pda siswa yang relatif berada tidak seenaknya memekai hal yang bisa membuat iri teman lain,

    untuk UAN saya lebih setuju kalau UAN tetap ada, betapa tidak, siswa sudah belajar hampir 3th, dan semua materi yang diUAN kan semua sudah d terima, maka seharusnya siswa harus bisa mengingat nya, dan jika memang mreka tidak lulus itu memeng kapasitas mereka yang harus d tambah dgan cara mengulang, dan menurut saya itu bukan sebuah kkerasan tapi mungkin lebih ke seleksi untuk menempuh hidup yang akan datang yang pasti akan penuh lebih banyak tantangan daripada ketika madsih sekolah

    terimakasih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Sekretariat:

Jln Ja'far Shodiq 36 Kalibening Tingkir Kota Salatiga. Phone (0298) 311438.
Februari 2010
S S R K J S M
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

%d blogger menyukai ini: