Pendidikan tanpa kekerasan; disukai anak dan mencerdaskan

Maret 8, 2010 at 10:01 am Tinggalkan komentar

oleh: Mujab
“seorang ibu memukul anaknya yang masih SD yang enggan mematikan tv untuk belajar. Anak itu menangis dan dengan terpaksa ia mematikan tv untuk kemudian membaca buku agar dianggap belajar oleh ibunya. Di lain hari ibu itu menjewer telinga anaknya dari sawah hingga rumah karena kedapatan mencuri uangnya kemudian dibelikan pancing untuk mencari belut di sawah bersama teman-temannya. Anak itu dipermalukan di depan teman-temannya, disakiti, dan dipaksa meminta maaf atas perbuatannya. Limabelas tahun kemudian ibu itu menangis karena anaknya menendangi dirinya memaksa dibelikan motor, bahkan mengancam akan membunuh. Beberapa perabotan rumah di hancurkan. Tv di banting. Piring dan gelas sudah lebih dulu pecah karena menjadi pelampiasan kemarahan anaknya. Kalau dalam satu bulan tidak dibelikan anak itu memberikan pilihan ibunya atau dirinya yang harus pergi dari rumah.”
Akar kekerasan seseorang anak berangkat dari pola komunikasi yang tidak sehat dan perlakuan kasar dan mengandung unsur-unsur kekerasan terhadap mereka baik oleh orang tua, orang-orang sekitar dan dari lingkungan. Pola komunikasi yang tidak sehat akan tertanam pada diri anak sehingga membentuk sifat dan kebiasaan tidak sehat pula. Demikian juga dengan perlakuan yang kasar dan mengandung kekerasan terhadap anak akan menjadi contoh dan pembentukan kebiasaan terhadap anak bahwa kekerasan merupakan cara untuk meraih dan mewujudkan sesuatu. Sehingga anak memandang bahwa kekerasan merupakan hal yang wajar dan bukan sebagai sesuatu yang harus dihindari.
Dalam hal ini pembicaraan difokuskan pada peran ibu sebagai orang yang paling banyak berhubungan dengan anak, orang tua yang dianggap memiliki kewenangan untuk menentukan masa depan anak, dan tenaga pendidik yang menjalankan proses pendidikan terhadap anak. Unsur-unsur ini seringkali justru mengajarkan kekerasan dan kebiasaan memaksakan kehendak walaupun tanpa disadari karena perilaku dan kebiasaan yang dianggap wajar dan biasa. Sehingga anak kemudian tumbuh dan berkembang dengan sifat kasar sebagai akibat dari perlakukan kasar dan kekerasan yang mereka terima. Pola komunikasi orang tua anak yang tidak sehat juga menjadi penyebab munculnya kekerasan terhadap anak.
Kebiasaan dan perilaku sehari-hari tanpa disadari sering memperlakukan anak seakan-akan dia adalah benda mati, tanpa keinginan, harus diatur, dan tidak tahu apa-apa. Sehingga kadang orang tua tidak merasa perlu untuk mendengarkan keinginannya, mengajak berbagi cerita, memberi peluang untuk berbicara dan mengutarakan gagasannya apalagi memberi ruang dan kesempatan untuk mengembangkan diri dan pilihannya. Yang ada justru anak harus menuruti kemauan orang tua, harus mudah di atur, tidak banyak protes. Maka muncul pandangan bahwa anak yang dianggap baik adalah anak yang penurut, mudah diatur, patuh pada orang tua, dan tidak merepotkan.
Pada bagian lain anak seringkali menjadi korban ambisi dan keserakahan orang tua sehingga anak tidak bisa menentukan pilihan kegiatan dan materi belajarnya. Anak kadang dipaksa melakukan sesuatu yang tidak dia pahami dan dipaksa menguasai materi yang sebenarnya bukan untuk kepentingan dan masa depannya. Ini adalah sebentuk kekerasan dan perampasan hak anak untuk tumbuh dan berkembang sehingga ia menjadi dirinya sendiri.
Ibu, Orang terdekat dengan anak
Kekerasan kadang dialami anak bahkan dimulai dari ketika anak belum tahu apa-apa dan justru dari orang yang paling dekat dengannya yaitu ibu atau pengasuhnya.  Sebagai contoh, seorang bayi yang ngompol dan menangis di tengah malam, ibunya terbangun sambil mengata-ngatai anaknya dengan kasar dan suara keras karena tidurnya terganggu berkali-kali. Bayi itu menangis semakin keras dan ibunyapun mengata-ngatai semakin keras. Ini adalah perilaku kasar yang diterima anak pertama kali. Terkadang ibu juga sering tidak mau repot dan cenderung berpikir bahwa anak yang baik adalah yang pendiam, penurut, tidak suka protes. Contoh; seorang ibu marah-marah terhadap anaknya yang sedang merangkak karena pipis di sajadah kesayangannya yang lupa dirapikan setelah sholat. Anak itu dibentak-bentak karena dianggap merepotkan dan menambah pekerjaan saja. Kemudian anaknya dicubit sehingga menangis untuk melampiaskan kemarahannya. Contoh lain; seorang ibu berteriak-teriak ketika mendapati anaknya bermain pasir di halaman rumah tetangga padahal dia sudah dimandikan dan sudah diganti pakaiannya yang bersih. Dia memandang anaknya sungguh merepotkan. Ia jewer anaknya agar pulang dan tidak main lagi.
Kejadian diatas menggambarkan bahwa ibu kadang lebih mementingkan dirinya sendiri dan khawatir repot ketimbang berpikir kreatifitas, permainan yang menyenangkan, dan proses tumbuh kembang bagi anaknya. Ibu kadang tidak sabar melihat anaknya makan sendiri kemudian belepotan dan tumpah kemana-mana. Kemudian segera menyuapinya sampai habis sambil mengata-ngatai anaknya karena baju yang dipakai kotor semua. Secara tidak sadar ibu telah merampas kesempatan anaknya untuk belajar mandiri dan mengurus kepentingannya sendiri. Akhirnya anak akan selamanya bergantung pada orang tua.
Belajar tanpa kekerasan
Kekerasan ada 2 macam yaitu kekerasan fisik dan kekerasan psikis atau mental. Kekerasan fisik misalnya memukul, mencubit, menendang, menonjok, memaksa, menyuruh lari keliling lapangan, push up, pelecehan seksual, dan sebagainya. Adapun kekerasan psikis atau mental misalnya memaki, mencela, membentak, menghina, melecehkan, menyepelekan kemampuan, merendahkan dengan kata-kata ejekan dan kasar, membodoh-bodohkan dan sebagainya. Efek dari kekerasan psikis menyebabkan anak kehilangan percaya diri, pemalu, merasa tidak berguna, merasa dirinya pecundang, Kekerasan apapun bentuknya hanya akan mewariskan kekerasan pada generasi selanjutnya.
Belajar tanpa kekerasan berarti proses belajar yang meniadakan kekerasan fisik dan kekerasan psikologis. Belajar jenis ini saat ini masih jarang ditemukan dan dianggap tidak lazim dan tidak wajar. Hal ini mengindikasikan bahwa proses pembelajaran di Indonesia memang penuh kekerasan, pemaksaan dan perampasan kebahagiaan anak. Maka kita sering menemui anak senang sekali kalau hari libur. Ini mengindikasikan kalau belajar adalah proses yang membosankan.
Belajar tanpa kekerasan berarti belajar yang menyenangkan. Artinya anak menemukan kesenangan dalam proses belajarnya. Tidak bosan. Anak akan menunggu saat masuk sekolah. Anak menjadi sedih ketika liburan tiba. Anak begitu berduka ketika pelajaran kosong. Bahkan anak akan menuntut agar pembelajaran tetap berlangsung. Belajar yang seperti ini mengindikasikan bahwa anak sudah menemukan arti penting belajar karena memang belajar itu menyenangkan.
Belajar tanpa kekerasan berarti proses belajar yang tidak memaksakan kehendak, utamanya kehendak orang tua, kehendak guru, kehendak masyarakat bahkan kehendak negara. Anak diberikan kebebasan untuk memilih materi dan cara dia untuk belajar. Anak juga diberi kebebasan menentukan waktu dan tempat untuk belajar. Orang tua harus memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan pemikiran dan ketrampilannya dalam situasi yang menyenangkan.
Belajar tanpa kekerasan berarti belajar yang menjadikan anak mau bekerja keras, berpikir cerdas namun dalam suasana yang bebas. Bahwa bekerja keras dan berpikir cerdas itu perlu dilatih dan dibiasakan. Akan tetapi bahwa melatihkan dan membiasakan tetap harus menghindari cara-cara kekerasan dan pemaksaan. Karena pemaksaan dan kekerasaan pada dasarnya merupakan indikasi ketidak cerdasan dan ketumpulan berpikir. Kekerasan dan pemaksaan adalah upaya pencapaian tujuan yang bodoh.
Belajar tanpa kekerasan berarti belajar yang penuh warna, penuh rasa bahagia, penuh kebebasan, penuh perhatian, penuh apresiasi atas pemikiran, prakarsa dan pilihan anak, penuh pujian dan penghargaan, penuh kesabaran dan ketulusan, penuh penghormatan dan kebijaksanaan. Belajar tanpa kekerasan adalah belajar yang menjauhi kesedihan, keterpaksaan, hukuman, ancaman, tindak anarkhis, makian, pelecehan, pemaksaan, dan pemerasan.
Belajar tanpa kekerasan akan menghasilkan kecerdasan, kemandirian, pencerahan, karya, pemikiran cerdas, rasa tanggung jawab, kebebasan berpikir, penghormatan terhadap pilihan seseorang, pengangkatan harkat dan martabat manusia, keinginan untuk memberikan manfaat bagi kehidupan, komitmen membangun moralitas dan kejujuran, dan ketulusan dalam berbuat sesuatu. Belajar tanpa kekerasan akan menghindarkan kekerasan, dendam, persaingan, persekongkolan, kecurangan, ketergantungan, dan pemaksaan kehendak.
(menjadi) Ibu yang cerdas
Ukurannya bukan tingkat pendidikan ataupun ijasah. Tapi ibu yang cerdas merupakan pilihan tergantung mau apa tidak untuk menjalaninya.
1. pandanglah anak, termasuk bayi ada sebagai seseorang yang tentunya memiliki perasaan, keinginan, kehendak, pikiran, dan pilihan. Perlakukan dia dengan memberi kesempatan untuk melakukan sendiri, mencoba, menjalani, melihat sendiri, mengalami sendiri, dan bahkan mengerti akibat da konsekuensi dari perbuatannya.
2. Ajaklah berbicara dan berkomunikasi sedini mungkin dari segi umur, sepagi mungkin dari segi waktu dan sesering mungkin dari segi kesempatan dan sebaik mungkin dari segi kualitas. Hal ini akan mempermudah anak memahami orang tua dan sebaliknya orang tua memahami anak. Keadaan saling memahami akan memudah kedua belah pihak untuk menyampaikan maksud dan pemikiran, mengkompromikan keinginan, dan menyelesaikan masalah.
3. Jangan sekali-kali memandang anak sebagai tidak tahu apa-apa, tidak perlu diajak berkomunikasi dan harus dilayani semuanya. Hal ini akan mempengaruhi perlakuan ibu terhadap anak untuk selalu mengatur, selalu mengarahkan, selalu melayani dan selalu menceramahi. Anak akan menjadi tidak berharga, tidak diakui jati dirinya dan acuh. Anak tidak bisa belajar memahami, dan akan mengalami gangguan dalam penyampaian pemikiran dan idenya.
4. Perbanyaklah mendengarkan dan minimalkan ceramah. Ketulusan ibu dan bapak mendengarkan pembicaraan anak berarti memberikan kesempatan bagi anak untuk menguatarakan maksud dan pemikirannya dengan tenang, nyaman dan terstruktur sehingga lebih mudah dipahami. Dengan demikian komunikasi menjadi lancar sehingga anak terhindar dari beban yang menumpuk, frustasi dan stress.
5. Hindari berteriak dan berpikir kepentingan sendiri. Pada dasarnya anak lebih suka diajak bercanda dan tertawa daripada diomeli dan diteriaki. Yang perlu anda ingat adalah kalau piring pecah dan pakaian menjadi kotor karena dibuat bermain anak anda, itu bisa dibeli lagi. Akan tetapi kalau anak anda menjadi tidak cerdas dan anarkhis, itu tidak bisa diulang kembali ke masa lalu.
6. Jangan lampiaskan kemarahan dan kekesalan anda pada anak, apalagi dengan membentak dan memarahinya. Itu tidak menyelesaikan masalah dan justru menghilangkan rasa percaya diri anak. Anak menjadi pemalu, pemurung, minder dan tidak berani.
7. Hormati anak sebagaimana orang berkewajiban menghormati setiap orang. Jangan meremehkan pikiran dan pilihan anak. Ketika anak melakukan sesuatu, pujilah. Ketika mempunyai rencana dan keinginan dukunglah, jangan menakut-nakuti apalagi menghalang-halangi. Jika terlihat beresiko pesanlah agar dia berhati-hati dan waspada. Dengan demikian anak anda akan menjadi orang yang berani, tidak mudah ragu, dan berani menghadapi tantangan dan resiko. Bukan orang yang pengecut dan hanya cari selamat saja.
Dirangkum dari berbagai sumber

Pendidikan tanpa kekerasan; disukai anak dan mencerdaskanoleh: Mujab

Pendahuluan“seorang ibu memukul anaknya yang masih SD yang enggan mematikan tv untuk belajar. Anak itu menangis dan dengan terpaksa ia mematikan tv untuk kemudian membaca buku agar dianggap belajar oleh ibunya. Di lain hari ibu itu menjewer telinga anaknya dari sawah hingga rumah karena kedapatan mencuri uangnya kemudian dibelikan pancing untuk mencari belut di sawah bersama teman-temannya. Anak itu dipermalukan di depan teman-temannya, disakiti, dan dipaksa meminta maaf atas perbuatannya. Limabelas tahun kemudian ibu itu menangis karena anaknya menendangi dirinya memaksa dibelikan motor, bahkan mengancam akan membunuh. Beberapa perabotan rumah di hancurkan. Tv di banting. Piring dan gelas sudah lebih dulu pecah karena menjadi pelampiasan kemarahan anaknya. Kalau dalam satu bulan tidak dibelikan anak itu memberikan pilihan ibunya atau dirinya yang harus pergi dari rumah.”
Akar kekerasan seseorang anak berangkat dari pola komunikasi yang tidak sehat dan perlakuan kasar dan mengandung unsur-unsur kekerasan terhadap mereka baik oleh orang tua, orang-orang sekitar dan dari lingkungan. Pola komunikasi yang tidak sehat akan tertanam pada diri anak sehingga membentuk sifat dan kebiasaan tidak sehat pula. Demikian juga dengan perlakuan yang kasar dan mengandung kekerasan terhadap anak akan menjadi contoh dan pembentukan kebiasaan terhadap anak bahwa kekerasan merupakan cara untuk meraih dan mewujudkan sesuatu. Sehingga anak memandang bahwa kekerasan merupakan hal yang wajar dan bukan sebagai sesuatu yang harus dihindari.Dalam hal ini pembicaraan difokuskan pada peran ibu sebagai orang yang paling banyak berhubungan dengan anak, orang tua yang dianggap memiliki kewenangan untuk menentukan masa depan anak, dan tenaga pendidik yang menjalankan proses pendidikan terhadap anak. Unsur-unsur ini seringkali justru mengajarkan kekerasan dan kebiasaan memaksakan kehendak walaupun tanpa disadari karena perilaku dan kebiasaan yang dianggap wajar dan biasa. Sehingga anak kemudian tumbuh dan berkembang dengan sifat kasar sebagai akibat dari perlakukan kasar dan kekerasan yang mereka terima. Pola komunikasi orang tua anak yang tidak sehat juga menjadi penyebab munculnya kekerasan terhadap anak.Kebiasaan dan perilaku sehari-hari tanpa disadari sering memperlakukan anak seakan-akan dia adalah benda mati, tanpa keinginan, harus diatur, dan tidak tahu apa-apa. Sehingga kadang orang tua tidak merasa perlu untuk mendengarkan keinginannya, mengajak berbagi cerita, memberi peluang untuk berbicara dan mengutarakan gagasannya apalagi memberi ruang dan kesempatan untuk mengembangkan diri dan pilihannya. Yang ada justru anak harus menuruti kemauan orang tua, harus mudah di atur, tidak banyak protes. Maka muncul pandangan bahwa anak yang dianggap baik adalah anak yang penurut, mudah diatur, patuh pada orang tua, dan tidak merepotkan.Pada bagian lain anak seringkali menjadi korban ambisi dan keserakahan orang tua sehingga anak tidak bisa menentukan pilihan kegiatan dan materi belajarnya. Anak kadang dipaksa melakukan sesuatu yang tidak dia pahami dan dipaksa menguasai materi yang sebenarnya bukan untuk kepentingan dan masa depannya. Ini adalah sebentuk kekerasan dan perampasan hak anak untuk tumbuh dan berkembang sehingga ia menjadi dirinya sendiri.
Ibu, Orang terdekat dengan anakKekerasan kadang dialami anak bahkan dimulai dari ketika anak belum tahu apa-apa dan justru dari orang yang paling dekat dengannya yaitu ibu atau pengasuhnya.  Sebagai contoh, seorang bayi yang ngompol dan menangis di tengah malam, ibunya terbangun sambil mengata-ngatai anaknya dengan kasar dan suara keras karena tidurnya terganggu berkali-kali. Bayi itu menangis semakin keras dan ibunyapun mengata-ngatai semakin keras. Ini adalah perilaku kasar yang diterima anak pertama kali. Terkadang ibu juga sering tidak mau repot dan cenderung berpikir bahwa anak yang baik adalah yang pendiam, penurut, tidak suka protes. Contoh; seorang ibu marah-marah terhadap anaknya yang sedang merangkak karena pipis di sajadah kesayangannya yang lupa dirapikan setelah sholat. Anak itu dibentak-bentak karena dianggap merepotkan dan menambah pekerjaan saja. Kemudian anaknya dicubit sehingga menangis untuk melampiaskan kemarahannya. Contoh lain; seorang ibu berteriak-teriak ketika mendapati anaknya bermain pasir di halaman rumah tetangga padahal dia sudah dimandikan dan sudah diganti pakaiannya yang bersih. Dia memandang anaknya sungguh merepotkan. Ia jewer anaknya agar pulang dan tidak main lagi. Kejadian diatas menggambarkan bahwa ibu kadang lebih mementingkan dirinya sendiri dan khawatir repot ketimbang berpikir kreatifitas, permainan yang menyenangkan, dan proses tumbuh kembang bagi anaknya. Ibu kadang tidak sabar melihat anaknya makan sendiri kemudian belepotan dan tumpah kemana-mana. Kemudian segera menyuapinya sampai habis sambil mengata-ngatai anaknya karena baju yang dipakai kotor semua. Secara tidak sadar ibu telah merampas kesempatan anaknya untuk belajar mandiri dan mengurus kepentingannya sendiri. Akhirnya anak akan selamanya bergantung pada orang tua.
Belajar tanpa kekerasanKekerasan ada 2 macam yaitu kekerasan fisik dan kekerasan psikis atau mental. Kekerasan fisik misalnya memukul, mencubit, menendang, menonjok, memaksa, menyuruh lari keliling lapangan, push up, pelecehan seksual, dan sebagainya. Adapun kekerasan psikis atau mental misalnya memaki, mencela, membentak, menghina, melecehkan, menyepelekan kemampuan, merendahkan dengan kata-kata ejekan dan kasar, membodoh-bodohkan dan sebagainya. Efek dari kekerasan psikis menyebabkan anak kehilangan percaya diri, pemalu, merasa tidak berguna, merasa dirinya pecundang, Kekerasan apapun bentuknya hanya akan mewariskan kekerasan pada generasi selanjutnya.Belajar tanpa kekerasan berarti proses belajar yang meniadakan kekerasan fisik dan kekerasan psikologis. Belajar jenis ini saat ini masih jarang ditemukan dan dianggap tidak lazim dan tidak wajar. Hal ini mengindikasikan bahwa proses pembelajaran di Indonesia memang penuh kekerasan, pemaksaan dan perampasan kebahagiaan anak. Maka kita sering menemui anak senang sekali kalau hari libur. Ini mengindikasikan kalau belajar adalah proses yang membosankan.Belajar tanpa kekerasan berarti belajar yang menyenangkan. Artinya anak menemukan kesenangan dalam proses belajarnya. Tidak bosan. Anak akan menunggu saat masuk sekolah. Anak menjadi sedih ketika liburan tiba. Anak begitu berduka ketika pelajaran kosong. Bahkan anak akan menuntut agar pembelajaran tetap berlangsung. Belajar yang seperti ini mengindikasikan bahwa anak sudah menemukan arti penting belajar karena memang belajar itu menyenangkan. Belajar tanpa kekerasan berarti proses belajar yang tidak memaksakan kehendak, utamanya kehendak orang tua, kehendak guru, kehendak masyarakat bahkan kehendak negara. Anak diberikan kebebasan untuk memilih materi dan cara dia untuk belajar. Anak juga diberi kebebasan menentukan waktu dan tempat untuk belajar. Orang tua harus memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan pemikiran dan ketrampilannya dalam situasi yang menyenangkan. Belajar tanpa kekerasan berarti belajar yang menjadikan anak mau bekerja keras, berpikir cerdas namun dalam suasana yang bebas. Bahwa bekerja keras dan berpikir cerdas itu perlu dilatih dan dibiasakan. Akan tetapi bahwa melatihkan dan membiasakan tetap harus menghindari cara-cara kekerasan dan pemaksaan. Karena pemaksaan dan kekerasaan pada dasarnya merupakan indikasi ketidak cerdasan dan ketumpulan berpikir. Kekerasan dan pemaksaan adalah upaya pencapaian tujuan yang bodoh.Belajar tanpa kekerasan berarti belajar yang penuh warna, penuh rasa bahagia, penuh kebebasan, penuh perhatian, penuh apresiasi atas pemikiran, prakarsa dan pilihan anak, penuh pujian dan penghargaan, penuh kesabaran dan ketulusan, penuh penghormatan dan kebijaksanaan. Belajar tanpa kekerasan adalah belajar yang menjauhi kesedihan, keterpaksaan, hukuman, ancaman, tindak anarkhis, makian, pelecehan, pemaksaan, dan pemerasan.Belajar tanpa kekerasan akan menghasilkan kecerdasan, kemandirian, pencerahan, karya, pemikiran cerdas, rasa tanggung jawab, kebebasan berpikir, penghormatan terhadap pilihan seseorang, pengangkatan harkat dan martabat manusia, keinginan untuk memberikan manfaat bagi kehidupan, komitmen membangun moralitas dan kejujuran, dan ketulusan dalam berbuat sesuatu. Belajar tanpa kekerasan akan menghindarkan kekerasan, dendam, persaingan, persekongkolan, kecurangan, ketergantungan, dan pemaksaan kehendak.
(menjadi) Ibu yang cerdasUkurannya bukan tingkat pendidikan ataupun ijasah. Tapi ibu yang cerdas merupakan pilihan tergantung mau apa tidak untuk menjalaninya. 1. pandanglah anak, termasuk bayi ada sebagai seseorang yang tentunya memiliki perasaan, keinginan, kehendak, pikiran, dan pilihan. Perlakukan dia dengan memberi kesempatan untuk melakukan sendiri, mencoba, menjalani, melihat sendiri, mengalami sendiri, dan bahkan mengerti akibat da konsekuensi dari perbuatannya.2. Ajaklah berbicara dan berkomunikasi sedini mungkin dari segi umur, sepagi mungkin dari segi waktu dan sesering mungkin dari segi kesempatan dan sebaik mungkin dari segi kualitas. Hal ini akan mempermudah anak memahami orang tua dan sebaliknya orang tua memahami anak. Keadaan saling memahami akan memudah kedua belah pihak untuk menyampaikan maksud dan pemikiran, mengkompromikan keinginan, dan menyelesaikan masalah. 3. Jangan sekali-kali memandang anak sebagai tidak tahu apa-apa, tidak perlu diajak berkomunikasi dan harus dilayani semuanya. Hal ini akan mempengaruhi perlakuan ibu terhadap anak untuk selalu mengatur, selalu mengarahkan, selalu melayani dan selalu menceramahi. Anak akan menjadi tidak berharga, tidak diakui jati dirinya dan acuh. Anak tidak bisa belajar memahami, dan akan mengalami gangguan dalam penyampaian pemikiran dan idenya.4. Perbanyaklah mendengarkan dan minimalkan ceramah. Ketulusan ibu dan bapak mendengarkan pembicaraan anak berarti memberikan kesempatan bagi anak untuk menguatarakan maksud dan pemikirannya dengan tenang, nyaman dan terstruktur sehingga lebih mudah dipahami. Dengan demikian komunikasi menjadi lancar sehingga anak terhindar dari beban yang menumpuk, frustasi dan stress. 5. Hindari berteriak dan berpikir kepentingan sendiri. Pada dasarnya anak lebih suka diajak bercanda dan tertawa daripada diomeli dan diteriaki. Yang perlu anda ingat adalah kalau piring pecah dan pakaian menjadi kotor karena dibuat bermain anak anda, itu bisa dibeli lagi. Akan tetapi kalau anak anda menjadi tidak cerdas dan anarkhis, itu tidak bisa diulang kembali ke masa lalu.6. Jangan lampiaskan kemarahan dan kekesalan anda pada anak, apalagi dengan membentak dan memarahinya. Itu tidak menyelesaikan masalah dan justru menghilangkan rasa percaya diri anak. Anak menjadi pemalu, pemurung, minder dan tidak berani.7. Hormati anak sebagaimana orang berkewajiban menghormati setiap orang. Jangan meremehkan pikiran dan pilihan anak. Ketika anak melakukan sesuatu, pujilah. Ketika mempunyai rencana dan keinginan dukunglah, jangan menakut-nakuti apalagi menghalang-halangi. Jika terlihat beresiko pesanlah agar dia berhati-hati dan waspada. Dengan demikian anak anda akan menjadi orang yang berani, tidak mudah ragu, dan berani menghadapi tantangan dan resiko. Bukan orang yang pengecut dan hanya cari selamat saja.

Dirangkum dari berbagai sumber

Iklan

Entry filed under: Uncategorized.

Waspadai kekerasan pada anak Managemen Waktu Petani Jawa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Sekretariat:

Jln Ja'far Shodiq 36 Kalibening Tingkir Kota Salatiga. Phone (0298) 311438.
Maret 2010
S S R K J S M
« Feb   Mei »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

%d blogger menyukai ini: